Skip to content

Gagdet in Review by Fidi

Most Update Gadget Review in 2025

  • Home
  • About
  • Privacy Policy
  • Home
  • Sebuah ‘Review’ dari Surga Analog: Seorang Pecandu Gadget, Jatuh Hati pada Kampung Lali Gadget
Achmad Irfandi pendiri kampung lali gadget

Sebuah ‘Review’ dari Surga Analog: Seorang Pecandu Gadget, Jatuh Hati pada Kampung Lali Gadget

Posted on October 18, 2025 By Fidi Sfidiansyah No Comments on Sebuah ‘Review’ dari Surga Analog: Seorang Pecandu Gadget, Jatuh Hati pada Kampung Lali Gadget
Perbandingan Gadget

Halo, para tech enthusiast! rasanya sudah lama nih gak update blog Gadget ini, dan kebetulan juga akhir-akhir ini saya lagi pengen mencari ketenangan jiwa dengan dunia analog alias offline.

Seperti yang kalian tahu di blog saya, Anda pasti bisa menebak jika hidup saya berputar di sekitar layar. Kotak masuk email saya penuh dengan siaran pers tentang peluncuran smartphone terbaru. Meja kerja saya adalah kuburan bagi kotak-kotak gadget yang baru saja saya unboxing. Saya bisa berdebat selama berjam-jam tentang keunggulan refresh rate 144Hz dibandingkan 120Hz, atau efisiensi prosesor 3-nanometer. Singkatnya, pekerjaan saya adalah terpaku pada teknologi. Ironisnya, semakin dalam saya menyelami dunia digital, semakin sering saya merindukan tombol “off”.

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk melakukan sebuah “review” yang berbeda. Kali ini, objeknya bukan perangkat dengan RAM belasan giga atau kamera bersensor satu inci. Objek review saya kali ini adalah sebuah konsep, sebuah gerakan, sebuah tempat yang namanya saja sudah merupakan antitesis dari semua yang saya kerjakan: Kampung Lali Gadget.

Ya, Anda tidak salah baca. “Lali” dalam bahasa Jawa artinya “lupa”. Jadi, ini adalah “Kampung Lupa Gadget”. Sebagai seseorang yang mencari nafkah dari gadget, mengunjungi tempat ini terasa seperti seorang koki mengunjungi restoran yang menunya hanya air putih. Aneh, menantang, tapi entah kenapa, sangat menarik. Dan perjalanan saya ke Dusun Pager, Sidoarjo, Jawa Timur ini, berakhir menjadi salah satu “review” paling penting yang pernah saya tulis.

Mainan Jadul bikin Nostalgia (Sumber: Kompasiana)

Pengalaman ‘Unboxing’ yang Berbeda

Biasanya, pengalaman unboxing saya melibatkan pisau cutter, lapisan plastik, dan aroma khas pabrik dari perangkat baru. Di Kampung Lali Gadget (KLG), pengalaman “membuka kotaknya” jauh lebih memukau. Tidak ada kotak kardus. Yang ada adalah sebuah lapangan terbuka yang dipenuhi suara paling langka di era digital: tawa lepas anak-anak yang tidak berasal dari video YouTube.

Saat saya tiba, “layar” di depan saya menampilkan resolusi tak terbatas dari dunia nyata. Puluhan anak berlarian, berteriak riang. Beberapa anak laki-laki, dengan konsentrasi penuh, berjalan di atas sepasang bambu tinggi yang disebut egrang. Di sudut lain, sekelompok anak perempuan lincah melompat-lompat dalam permainan engklek. Ada juga yang bergerombol, adu strategi dalam permainan gobak sodor.

Tidak ada satu pun anak yang menunduk menatap layar. Tidak ada ibu jari yang sibuk menggulir feed media sosial. “Koneksi” di sini bukan 5G atau Wi-Fi 6, melainkan kontak mata, sentuhan fisik saat bermain, dan koordinasi tim yang dibangun lewat teriakan dan instruksi langsung. Ini adalah multiplayer game orisinal dalam mode offline paling sempurna.

Di tengah “kekacauan” yang membahagiakan itu, saya melihat seorang pria muda dengan senyum ramah, sibuk mengarahkan dan sesekali ikut bermain. Dialah “arsitek” di balik surga analog ini, sang “developer utama”: Achmad Irfandi.

‘Software’ dan ‘Operating System’ di Balik KLG

Setiap produk hebat pasti punya pencipta dengan visi yang kuat. Jika Steve Jobs punya visi “a computer for the rest of us”, maka visi Achmad Irfandi bisa dibilang “a childhood for the rest of our kids”.

Berbincang dengannya membuka mata saya. Mas Irfan, begitu ia akrab disapa, bukanlah seorang Luddite (orang yang anti-teknologi). Ia adalah seorang pemuda yang realistis dan peduli. Ia melihat sebuah “bug” sistemik dalam generasi masa kini: anak-anak yang kehilangan masa kecilnya, terenggut oleh cahaya biru dari layar gawai. Mereka mungkin jago menaklukkan level di game online, tapi gagap saat harus berinteraksi sosial di dunia nyata. Mereka hafal ratusan karakter fiksi, tapi lupa dengan permainan yang dimainkan oleh kakek-nenek mereka.

Maka, ia menciptakan KLG sebagai sebuah “patch” untuk memperbaiki bug tersebut. “Sistem Operasi” yang berjalan di KLG bukanlah Android atau iOS, melainkan nilai-nilai luhur budaya: gotong royong, kreativitas, sportivitas, dan interaksi sosial.

“Aplikasi” yang diinstal di dalamnya adalah puluhan permainan tradisional. Setiap “aplikasi” ini punya fungsi edukatif yang luar biasa:

  • Gobak Sodor: Mengajarkan strategi, kerja sama tim, dan kecepatan mengambil keputusan.
  • Egrang: Melatih keseimbangan, fokus, dan keberanian untuk jatuh dan bangkit lagi.
  • Dakon/Congklak: Mengasah kemampuan berhitung dan berpikir strategis jangka panjang.
  • Bentengan: Membangun jiwa kepemimpinan dan rasa memiliki terhadap kelompok.

Ini adalah gamifikasi dalam bentuknya yang paling murni dan efektif, jauh sebelum istilah itu menjadi tren di dunia korporat dan teknologi. Mas Irfan tidak hanya mengembalikan permainan ini, ia mengembalikan esensi dari bermain itu sendiri.

Achmad Irfandi: Mengenalkan Permainan Tradisional yang Menyehatkan

‘Spesifikasi Teknis’ yang Gagal Ditandingi Gadget Tercanggih Sekalipun

Sebagai seorang reviewer, saya terbiasa membedah spesifikasi. Mari kita coba “bedah” spesifikasi pengalaman di Kampung Lali Gadget:

  • Display: Dunia nyata dengan dynamic range tak terbatas, resolusi retina alami, dan tanpa screen tearing. Warnanya 100% akurat, dan refresh rate-nya adalah kecepatan kehidupan itu sendiri.
  • Processor: Otak manusia yang bekerja tanpa distraksi notifikasi. Chipset-nya adalah imajinasi murni, mampu merender skenario permainan yang kompleks secara real-time.
  • Konektivitas: Jaringan peer-to-peer ultra-cepat melalui tatapan mata, senyuman, dan sentuhan fisik. Bandwidth-nya adalah empati, dengan latensi nol.
  • Baterai: Ditenagai oleh antusiasme, gula dari jajanan pasar, dan energi matahari. Bisa bertahan dari pagi hingga senja tanpa perlu power bank. Waktu pengisiannya? Cukup dengan istirahat sejenak sambil minum es teh.
  • User Interface (UI): Sangat intuitif. Tidak perlu buku manual. Anak-anak langsung tahu cara “mengoperasikannya” karena UI ini sudah tertanam dalam DNA manusia selama ribuan tahun.
  • Haptic Feedback: Jauh lebih canggih dari getaran motorik di controller game. Anda bisa merasakan hembusan angin saat berlari, tekstur tanah di bawah kaki, dan tepukan semangat di pundak teman.

Melihat daftar “spesifikasi” ini, saya sadar. Tidak ada gadget seharga puluhan juta rupiah pun yang bisa menandingi kekayaan pengalaman yang ditawarkan oleh KLG.

Validasi Nasional: ‘Rating Bintang 5’ dari SATU Indonesia Awards 2021

Visi dan kerja keras Achmad Irfandi tidak hanya bergaung di kampungnya. Gerakan ini mendapatkan pengakuan di tingkat nasional. Pada tahun 2021, ia dianugerahi apresiasi SATU Indonesia Awards dari Astra.

Ini bukan sekadar piala. Ini adalah sebuah “sertifikasi” resmi, sebuah seal of approval yang menyatakan bahwa inisiatif “mundur” dari teknologi ini justru merupakan sebuah langkah maju yang progresif dan sangat dibutuhkan bangsa. Penghargaan ini adalah validasi bahwa inovasi tidak melulu tentang menciptakan aplikasi atau perangkat keras baru. Terkadang, inovasi terbaik adalah keberanian untuk melestarikan kearifan lama dan mengemasnya kembali agar relevan untuk generasi baru. Bagi saya sebagai reviewer, penghargaan ini setara dengan rating “Editor’s Choice” atau “Product of the Year”. Ini adalah bukti bahwa Kampung Lali Gadget adalah sebuah “produk” sosial yang dirancang dengan brilian dan sangat berdampak.

Kesimpulan: ‘Firmware Update’ untuk Jiwa

Jadi, apakah setelah dari KLG saya akan berhenti me-review gadget dan membuang semua smartphone saya? Tentu saja tidak. Teknologi adalah alat yang netral dan luar biasa kuat.

Kunjungan ke Kampung Lali Gadget tidak membuat saya menjadi anti-teknologi. Justru sebaliknya, pengalaman ini memberikan saya sebuah “firmware update” untuk jiwa. Ini adalah pengingat keras tentang pentingnya keseimbangan. Bahwa di antara semua notifikasi, email, dan deadline digital, kita perlu menyediakan ruang dan waktu untuk “Lali Gadget”.

Achmad Irfandi dan KLG mengajarkan kita bahwa teknologi seharusnya menjadi pelayan, bukan tuan. Layar seharusnya menjadi jendela menuju dunia, bukan tembok yang memisahkan kita dari orang-orang di sebelah kita.

Bagi para orang tua yang membaca ini, mungkin ini adalah “gadget” terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak Anda: pengalaman bermain di alam terbuka. Bagi kita semua para pecandu teknologi, mungkin ini adalah “aplikasi digital detox” paling efektif yang pernah ada.

Kampung Lali Gadget adalah sebuah anomali yang indah di zaman kita. Dan terus terang, ini adalah “produk” dengan pengalaman pengguna terbaik yang pernah saya review sepanjang tahun ini. Highly recommended. Bintang lima dari lima. #APA2025-PLM #SatukanGerakTerusBerdampak #KitaSATUIndonesia

Bagaimana menurutmu? Drop komentar dibawah ya.

Tags: #APA2025-PLM #KitaSATUIndonesia #SatukanGerakTerusBerdampak Achmad Irfandi Kampung Lupa Gadget

Post navigation

❮ Previous Post: HP 2 Jutaan pemegang REKOR DUNIA – Infinix HOT 60 Pro+
Next Post: 4 Secret iPhone Tricks 🤫 #shorts #MostTechy ❯

You may also like

Perbandingan Gadget
Huawei Mate XS 2 Vs Samsung Galaxy Z Fold 4 Vs Xiaomi Mix Fold 2 Comparison
October 28, 2023
Perbandingan Gadget
Yang satu Rp2 juta, yang satunya lagi Rp25 JUTA! Bisa bedain?
June 14, 2024
Perbandingan Gadget
Xiaomi REDMI A2+ Review: The Cheapest Phone on the Planet?
June 21, 2024
Perbandingan Gadget
Riview Samsung Galaxy A02s Ram 4 Rom 64 Setelah 1 Tahun
April 27, 2023

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • How to set up Face ID on iPhone 📱👀 #apple #iphone
  • 4 Secret iPhone Tricks 🤫 #shorts #MostTechy
  • Sebuah ‘Review’ dari Surga Analog: Seorang Pecandu Gadget, Jatuh Hati pada Kampung Lali Gadget
  • HP 2 Jutaan pemegang REKOR DUNIA – Infinix HOT 60 Pro+
  • Mengapa SATSPAM Menjadi Game Changer dalam Spam Protection

Recent Comments

  1. TERLALU BAGUSSS ❤ – Review iPhone 14 Pro Indonesia! – Gagdet in Review by Fidi on 8 Perbandingan Android Vs. iPhone

Copyright © 2026 Gagdet in Review by Fidi.

Theme: Oceanly News Dark by ScriptsTown